<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311</id><updated>2012-02-16T02:04:59.817-08:00</updated><category term='Teologi'/><category term='artikel'/><title type='text'>FORTEGA</title><subtitle type='html'>Fortega (Forum Teologi Gajayana)Malang</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-7114131881313349321</id><published>2008-11-16T03:11:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T03:12:51.557-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>SOSIALISME MUHAMMAD-KARL MARX</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Zubairi AB**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpe Diem! Aforisme yang begitu gencar dikumandang para mujaddid di era renaisans dalam menstimulus dan memotivasi para ilmuwan yang lama tertidur. Sekecil apapun sebuah kesempatan harus dimafaatkan semaksimal mungkin. Lamban dalam bergerak, zaman akan melibasnya. Tak akan ada perubahan tanpa kesadaran. Kesadaran harus dimulai dari diri sendiri, sebab diri individu merupakan bagian dari masyarakatnya. Untuk itu memang butuh perjuangan yang tak mudah supaya masyarakat betull-betul sadar dan menyadari akan adanya penindasan secara sistemik-struktural yang dilakukan oleh kalangan borjuis-birokratis yang feudal-otoritarian, begitu kuat mencengkram masyarakat. Tak ada ruang bergerak ‘sekedar’ untuk menikmati hidup layak. Masyarakat kebanyakan (kaum proletar) yang hidup dalam kondisi ekonomi tak menentu diprerparah oleh sistem tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi masyarakat seperti itu, telah mengetuk hati nurani seorang Muhammad (571-634 M) dan Karl Marx (1818-1883 M), dua tokoh yang hadir dalam setting geografis dan masa berbeda – Arab dan Jerman -- namun sama dalam kondisi sosial masyarakat yang dihadapinya, masyarakat tertindas (mustadh’afin). Hati keduanya tergugah untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap penindasan yang terjadi. Memang terlalu riskan untuk mengkomparasikan keduanya, sebab Muhammad adalah seorang nabi yang bertanggungjawab secara spiritual sekaligus sosial dalam masyarakat yang landasan berpikirnya berdasakan wahyu. Sedangkan Marx seorang filosof yang mendasarkan pikirannya terhadap sesuatu yang empiris-materialis yang terkesan malah menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai religi.&lt;br /&gt; Terdorong rasa gelisah terhadap kondisi masyarakat yang semakin tertindas dan jauh terseret arus kapitalisme, tak ada salahnya kalau kita mencoba lirik kembali konsep perjuangan Muhammad dan Marx yang tercecer di emperan ketaksadaran manusia akan lingkungan sosial yang kian parah. Dalam hal ini, kita posisikan keduanya dalam konteks kemanusiaan yang begitu gigih berjuang untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketakadilan, meski harus berhadapan dengan para konglomerat dan pedang penguasa. Itu konsekuensi logis dari sebuah perjuangan demi terciptanya perubahan masyarakat ke arah lebih baik, berkeadilan dan egaliter.&lt;br /&gt;Classless Society; Muhammad dan Marx&lt;br /&gt; Muhammad, hadir untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk penindasan dan ketakadilan, yang berpijak pada wahyu untuk membangun orde-orde sosial atas dasar kesamaan hak, persaudaraan dan keadilan. Wahyu, sebagai asas primer yang memuat konsep-konsep unuiversal interaksi sosial di masyarakat, telah menginspirasi para pengikutnya tentang masyarakat ideal yang dicita-citakan Muhammad. Sebut saja Ali Syari’ti yang menyatakan islam agama protes, teologi pembebasannya Ashgar Ali Enginer, kiri Islamnya Hassan Hanafi, teologi transformatifnya Muslim Abdurrahman, teologi populisnya Masdar F Mas’udi, dan teologi sosialnya Amin Rais. Substansi dari semua itu beranggapan bahwa kesatuan manusia (unity of mankind) tak akan benar-benar terwujud tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas (classless society).&lt;br /&gt; Sosialisme yang ditawarkan Muhammad, tak didasarkan atas perang modal dan perjuangan kelas. Tetapi dibangun atas dasar karakter dan moral yang tinggi yang akan menjamin adanyan persamaan kelas, adanya kerja sama dan saling membantu atas dasar kebaikan dan kebaktian, nilai-nilai luhur yang mengatur tatanan sosial yang berdasarkan kesetaraan (social equality); yakni persaudaraan, keadilan sosial (social justice) (QS. Al Qashash: 5-6), kebenaran kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang. Bukan sosialisme dengan monopoli (ihtikar) satu kelas atas kelas lainnya. Inilah yang disebut masyarakat tauhidi, yang tak ada lagi kesenjangan sosial atas perbedaan secara kuantitatif (fisik), tetapi lebih kepada kualitas takwa (social spirituality). Sehingga tertanam rasa keyakinan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance), serta kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life), yang semua ini merupakan derivasi dari kesatuan ketuhanan/tauhid (unity of god). Dalam doktrin tauhid menolak segenap bentuk diskriminasi dalam bentuk ras, etnik, kasta pun kelas. Inilah konsep classless society ala Muhammad (QS. al Anbiya’: 92).&lt;br /&gt; Hak kepemilikan dalam Islam didasarkan atas kerja (malkiyah al khos) dan kekayaan nasional (malkiyah al ’am). Dan pembebasan manusia dapat tercapai ketika kepemilikan harta didasarkan pada malkiyah al khos dan bukan pada paksaan dan penindasan (ikhmad). Muhammad menilai bahwa setiap indiuvidu mempunyai hak bekerja dan mendapat upah yang layak, bahkan upah pekerja harus diberikan sebelum keringat ditubuhnya kering. Orang yang lalai terhadap hal tersebut, oleh Muhammad dianggap musuhnya.&lt;br /&gt; Sosialisme, sebagai ideologi dalam praktisnya tak sama dengan komunisme. Sosialisme sering dikonfrontasikan dengan doktrin pendewaan ((sanctity) kepemilikan pribadi (property) yang merupakan ciri utama kapitalisme. Ide sosialisme Karl Marx dipengaruhi oleh pendahulunya; GWF Hegel, Adam Smith, dan Comte de Saint-Simon, yang mendasarkan pada klaim perjuangan terhadap nilai-nilai persamaan, kerjasama, kebebasan individu, keadilan sosial, nihilnya kepemilikan privat, dan kontrol negara atas barang-barang produksi. Munculnya ide tersebut tak lepas dari kondisi pertentangan kelas di masyarakat, maka menurut Marx bahwa setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai melalui revolusi sebagai perjuangan kelas tertindas melawan kelas penindas. Kaum proletar harus mengambil alih secara bertahap seluruh kapital dari tangan borjuasi. Inilah yang disebut Marx sebagai revolusi demokratik, yaitu revolusi sosialis harus didahului revolusi borjuasi dengan memanfaatkan kaum borjuis melakukan demokratisasi di segala bidang. Di sini tampak bahwa proletariat sebagai basis material dan revolusi dari Marx.&lt;br /&gt; Antara Muhammad dan Marx mempunyai cita-cita yang sama, yaitu memperjuangkan kaum dhu’afa (proletar) ketaraf hidup yang lebih baik dan manusiawi. Walau sumber epistemologinya jelas-jelas berbeda, sumber epistemologi Muhammad adalah perpaduan antara bayani (teks wahyu/ agama) dan burhani (argumentasi empiris). Sedangkan konsepsi epistemologi Marx bermula dari konsep dialektika, bahwa sesuatu yang terjadi di dunia ini memberikan suatu pemahaman bahwa pengetahuan manusia terbentuk karena adanya kenyataan objektif yang dipersepsi oleh panca indera (empirisme). Jadi, konsepsi dialektika Marx lebih mengarah terhadap materialisme, sehingga sesuatu yang metaempiris dianggap tak memiliki peran (dialectical materialism) dan cenderung menjauh dari nilai-nilai religi (Tuhan). Terlihat bahwa perbedaan sosialisme Muhammad dan Marx terletak pada dalil epistem yang jadi pijakannya. Terlepas dari segala kekurangan, buku tersebut layak dibaca sebagai bahan reference dan refleksi, sudahkah cita-cita mulia tentang masyarakat ideal (civil society, masyarakat madani) terwujud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Tulisan dimuat di Koran Pendidikan, Edisi 218 / III/ 19-28 2008&lt;br /&gt;*) Zubairi AB/ Eri, bergiat di Wadah Pemberdayaan Masyarakat (WAPERMAS) Sumenep dan Forum Teologi Gajayana (ForTEGA), kini tinggal di Malang, Email: re_scripta@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-7114131881313349321?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/7114131881313349321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=7114131881313349321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/7114131881313349321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/7114131881313349321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2008/11/sosialisme-muhammad-karl-marx.html' title='SOSIALISME MUHAMMAD-KARL MARX'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-4708628126064868005</id><published>2008-03-03T06:44:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T06:49:06.138-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tuhan adalah sebuah Nilai (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eri Zubairi AB*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Orang yang percaya bahwa tsunami adalah cobaan dari Tuhan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;maka dia percaya kepada Tuhan yang buas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Itu bukan Tuhan saya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;(Goenawan Muhammad)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara normatif, sering terdengar bahwa iman dan takwa merupakan suatu yang niscaya harus tertanam dalam diri manusia untuk menurunkan berkah dari langit (QS. Al-A’raf: 96-101). Iman dan takwa, dua istilah yang sering hadir dalam teks-teks keagamaan (baca: al-Qur’an) sebagai sebuah solusi atas kompoleksitas problem dalam kehidupan manusia. Banyaknya bencana yang sering melanda negeri ini, ditanggapi secara beragam dengan berbagai sudut pandang disiplin keilmuan yang dimilikinya. Tuhan tidak lagi menurunkan berkahnya ke bumi disebabkan banyak manusia tidak dengan sungguh-sungguh menghayati keberimanannya, demikian banyak komentar yang sering terdengar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak dapat disangkal bahwa konsep iman dan takwa dalam pemikiran mainstream masyarakat, tak lebih hanyalah bentuk kepercayaan terhadap Tuhan (baca: Allah) yang harus direalisasikan dalam bentuk ritus-ritus maupun liturgis keagamaan semata. Dan hanya menyebabkan terperosok dalam praktek penghayatan religiositas-keberimanan yang absurd.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Bertrand Russel, banyak orang yang percaya (iman) terhadap Tuhan, namun prilaku mereka banyak yang merugikan atau menyakiti sesama. Jelas, sikap Russel sangat ilmiah dan kita tidak semesrinya menutup mata terhadap fenomena tersebut. Lalu, apakah lantas manusia harus menanggalkan iman, dan lari dari Tuhan? Ini juga bukan solusi terbaik untuk dilakukan. Perlu sebuah lapangan pemahaman yang lebih dinamis dan humanis dalam bangunan keberimanan terhadap Tuhan. Nietzche pernah pernah berujar, &lt;i&gt;requem aeternam deo,&lt;/i&gt; bukan lantas kita menelan mentah-mentah menu &lt;i&gt;tuhan&lt;/i&gt; yang dihidangkan olehnya. Nietzche hanya ingin menggugah keberimanan yang &lt;i&gt;telah lama mati&lt;/i&gt; dan tak mampu menjadi menu saji yang bergizi bagi kemanusiaan. Karena iman hanya jadi sebuah &lt;i&gt;paparéghan&lt;/i&gt; yang kosong akan makna, menjadi media penindas atas nama Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Disini perlu adanya bentuk keberimanan yang berpihak terhadap &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kemanusiaan. Bukankah iman sendiri mempunyai arti memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram terhadap sesama dan lingkungannya? Konsekuensi logis dari &lt;i&gt;iman&lt;/i&gt; adalah lahirnya sikap &lt;i&gt;amanah.&lt;/i&gt; Orang yang (merasa) beriman, seharusnya mampu menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat yang sejahtera. Al Qur’an selalu menyandingkan kata iman dengan amal shalih, artinya iman tak lebih hanya sebuah konsep dan amal shalih adalah praksisnya. Apalah arti sebuah konsep tanpa aplikasi, yang hanya membuat orang-orang bingung-kelimpungan dan bahkan membuatnya tersesat di halamn rumahnya sendiri. ”ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tak berbuah”, begitulah kelakar orang bijak. &lt;i&gt;Faith in action!&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lalu, apa korelasi iman dengan takwa? Tidak lengkap rasanya dalam mencari sebuah pengertian &lt;i&gt;taqwa&lt;/i&gt; kalau tidak mengutip salah satu &lt;i&gt;primbon&lt;/i&gt; kecil tentang etika yang banyak dijadikan referensi di kalangan pesantren, &lt;i&gt;Taisir al Khallaq.&lt;/i&gt; Di sana disebutkan bahwa &lt;i&gt;al Taqwa, huwa&lt;/i&gt; &lt;i&gt;imtitsal awamir al-llah wa ijtinab nawahih.&lt;/i&gt; Bukan berarti kita &lt;i&gt;wajib &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menerima definsi tersebut secara &lt;i&gt;taken for granted.&lt;/i&gt; Pengertian takwa disini masih ada jurang pemisah antara yang Kuat-yang lemah, yang Atas-yang Bawah, yang Jauh-yang Dekat, Tak Terbatas-terbatas, dan segala bentuk dualitas yang melekat dalam ranah relasi Tuhan-manusia. Tak heran, kemudian muncul statemen bahwa datangnya agama telah mengalienasi manusia dari kehidupannya. Nurcholish Madjid, memaknai taqwa dalam konsep yang berbeda dan lebih mencerminkan keimanan yang dinamis-humanis. Menurutnya, takwa adalah kesadaran terhadap Tuhan (&lt;i&gt;god consiousness&lt;/i&gt;). Kesadaran akan kemahahadiran Tuhan (&lt;i&gt;omnipresent&lt;/i&gt;) dalam kehidupannya lalu memunculkan bentuk tanggungjawab kemanusiaan yang tercermin dalam prilaku sosial yang shalih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi, Iman dan takwa merupakan suatu bangunan nilai ketuhanan yang simetris-simbiosis dalam menciptakan pola interaksi kehidupan bermasyarakat secara ideal, yang dilandasi nilai-nilai luhur ketuhanan seperti kasih sayang, memelihara dari kerusakan, saling membantu dalam kebaikan, adil dalam ucapan maupun tindakan, tidak menanam bibit permusuhan, dan segala bentuk nilai positif lainnya. Inilah iman yang akan membawa kepada kebaikan bersama, iman yang rahmatan lil alamain!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akhirnya, saya hanya ingin seperti Tuhan yang Maha Santun, tidak buas dan arogan. Sebab, itulah iman saya terhadapNya, Sang Pencinta!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Shodaqallahil ’azhim!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-4708628126064868005?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/4708628126064868005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=4708628126064868005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/4708628126064868005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/4708628126064868005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2008/03/tuhan-adalah-sebuah-nilai-1.html' title='Tuhan adalah sebuah Nilai (1)'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-4049706129486237076</id><published>2008-01-06T08:16:00.000-08:00</published><updated>2008-01-06T08:18:55.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Makna Turunnya Manusia ke Bumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh: M. Mukhlis Fahruddin*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. "mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Qs. Al Baqarah (2): 30.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas penulis sodorkan sebagai bahan awal kita untuk mengkaji manusia secara utuh. dari ayat diatas jelas tersurat bahwa Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Dari ayat tersebut ada dialektika proses penciptaan manusia dari para malaikat dengan Tuhan. pertanyaan selanjutnya adalah mengapa manusia yang terpilih untuk menjadi khalifah? apa potensi yang dimiliki manusia? Apa sebernarnya tugas khalifah? kenapa tidak makhluk yang lain? Kenapa harus dibumi? Dari mana malaikat referensinya malaikat sehingga mereka mengatakan bahwa manusia akan membuat kerusakan dimuka bumi ini?. Tulisan ini mencoba untuk menjawabnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Khalifah&lt;br /&gt;Khalifah dan Khulafa (jamak) secara bahasa artinya wakil, pengganti,  orang yang menggantikan orang yang sebelumnya. Al-Quran menyebut kata khalifah  dalam surat al-Baqarah: 30 dan Shad: 26), Khulafa’ (3 kali: al-A’raf: 69, 74; an-Naml: 62), Khalāi                                                                                                                                                                                                                                                            fa (4 kali: al-An-âam: 145; Yunus: 14, 73; Fathir: 39) dan masih banyak ayat lain yang menyatakan kata bentukannya. Semuanya dinyatakan dalam arti bahasa, yakni pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi. Menurut istilah yang lebih khusus lagi pada kekuasaan, berarti orang yang dipilih oleh jama'ah menjadi pemimpin mereka.&lt;br /&gt;Khalifah menurut sejarah ialah; Kepala Pemerintahan Islam pada zaman sahabat, yaitu dengan bai'at sebagai pernyataan setia dari penduduknya dengan jalan pilihan. Sesudah masa sahabat, sebutan Khalifah dipergunakan untuk sebutan kepala Pemerintahan tetapi tidak melalui pilihan (kerajaan). Dulu, pada saat Abu Bakar As-Shiddiq menjadi pemimpin umat Islam, beliau disebut Khalifah (pengganti) dari Rasulullah. Lalu, ketika Umar ra menggantikan, beliau disebut khalifat khalifat Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Karena gelar ini terlalu panjang, akhirnya Umar ra. berinisiatif mengganti gelar itu dengan Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang mukmin).&lt;br /&gt;Semua manusia yang diciptakan oleh Allah di muka bumi adalah Khalifah Allah; atau pengganti makhluk Tuhan untuk melaksanakan amanah Tuhan sebagai pengelola bumi ini. Allah memberikan amanah kepada semua manusia (Khulafa) untuk membangun bumi ini; bukan kepada Malaikat, Jin, Hewan, gunung, langit dan lain sebagainya; walaupun mereka juga ciptaan Allah. “Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung”. (Qs. 33:72). Manusialah yang sanggup untuk memegang amanah itu karena potensi yang dimiliki oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Term Manusia dalam al-Qur'an&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada tiga kata kunci yang digunakan al-Qur'an untuk menunjuk manusia yaitu;&lt;br /&gt;Pertama. Dengan huruf  a-n-s, seperti dalam kata insān, ins dan unās. Kata insān berasal dari kata uns, yang berarti jinak, harmonis dan tumpah, ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata nasiya (lupa) atau nāsa-yanŭsu (guncang). Kata ini dengan derifasinya terulang sebanyak 65 kali yang dikelompokan kedalam tiga kategori, yaitu; (a) kata insān yang dihubungkan dengan kata khalifah (pemikul amanah). (b) kata insān dihubungkan dengan predisposisi negatif yang cenderung lalim, kufur, tergesa-gesa, bodoh, bakhil, banyak membantah, resah, gelisah dan enggan menolong, tidak berterima kasih. (c) kata insān dihubungkan dengan proses penciptaan manusia.&lt;br /&gt;Kedua, menggunakan kata Basyar. Kata ini dalam al-Qur'an terulang sebanyak 27 kali yang menunjukan identitas biologis, kata ini juga dikontekskan dengan makan, minum, seks, berjalan di pasar dan lain-lain.&lt;br /&gt;Ketiga, menggunakan istilah Al-nās. Kata ini menunjukan manusia sebagai makhluk sosial, bentuk ini disebut sebanyak 240 kali yang sering dipakai dalam ungkapan; wa min al-Nās, aktsaru al-Nās, dan yā ayyuha al-Nās yang menunjukan kepada kelompok sosial dengan berbagai stratifikasinya, keadaan kelompok inilah al-Qur'an diturunkan.   &lt;br /&gt;Karakteristik beberapa term diatas, al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial, maka ketika ia berkedudukan sebagai basyar yang erat dengan unsur materi, ia hrus tunduk pada sunnatullah di alam ini. ketatan dan ketundukan manusia sama dengan ketundukan makhluk lain yang berpredikat masyyar, tetapi ketika berposisi sebagai insān atau al-nās yang berkaitan dengan nilai rabbany, maka Islam adiikat dengan aturan, yang diberi kebebasan untuk tunduk atau menolak, sehingga ia berpredikat muskhayyar yang dituntut tanggung jawab. Inilah yang selanjutnya menjadikan manusia khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam Penafsiran Manusia Turun ke Bumi&lt;br /&gt;Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaum-mu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi,  sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi'' (Fathir: 39).&lt;br /&gt;Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'' Kesalahan kita terkadang terjebak pada cerita proses turunnya Nabi Adam kebumi, mereka mengatakan ini semua kesalahan Nabi Adam telah memakan buah Khuldhi (buah larangan) yang menyebabkan keturunan Adam hidup di bumi. Padahal dijadikannya manusia penghuni bumi adalah untuk menjadikannya khalifah dengan amanah mengelola, memelihara dan mengembangkan bumi dengan segala kehidupannya.&lt;br /&gt;Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya'', Seolah-olah malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya. Jika kita menafsirkan lagi, malaikat mendapat referensi dari mana sehingga bertanya seperti itu?  Malaikat melihat potensi yang dimiliki manusia yaitu, potensi hawa-nafsu, yang akan menyebab manusia lepas kontrol tidak lagi mengikuti perintah, disamping manusia punya potensi yang lain misalnya; akal, menyaksikan Tuhan, indera dan lain sebagainya. Petensi-potensi inilah yang harus kita kembangkan dan sekaligus kita waspadai seperti dialog ketakukan malaikat akan kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia. &lt;br /&gt;Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya?''. Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam.&lt;br /&gt;Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian, perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ''Abu Bakar merupakan khalifah Rasulullah'' yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata: ''Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,'' yaitu ketika Nabi SAW. pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang.&lt;br /&gt;Bila konsep ini telah jelas dan melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;Pertama. Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total atau bagian. Dia senantiasa mengurus langit, bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil, pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta alam. Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk  menggantikan Allah, maka dia harus memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta'ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna? Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ''Tidak ada  sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (Qs. asy-Syuura: 11)&lt;br /&gt;Kedua adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut ini. ''Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung''(Ali Imran: 173). ''Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.''(Hud: 12). ''Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.''(At-Thalaq: 3). ''Dan cukuplah Allah sebagai Wakil''(An-Nisa': 81) Dalam hadits mengenai doa  bepergian, Nabi SAW bersabda, ''Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan)'' Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-Qur'an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni, karena Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi''. Ayat ini jangan dipahami bahwa Adam ‘alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.'' Allah mengatakannya demikian, dan tidak mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan,  untuk-Ku, seorang khalifah di bumi'', atau Dia mengatakan, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi'', atau ''menjadikan khalifah-Ku''. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin mengatakan, ''Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.''Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ''menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.&lt;br /&gt;Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur'an dan Sunnah. Adapun orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah, dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan menggantikan-Nya.&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis khalifah adalah wakil dari manusia sendiri dari generasi ke genras, khalifah juga berarti pemimpin, jadi setiap manusia adalah pemimpin, paling tidak dia mempunyai kebebasan untuk memimpin dirinya sendir. Pengertian khalifah juga tidak terlepas dari tujuan penciptaan, yaitu sebagai hamba yang beribadah kepada Allah, sebagai pengelola, pemelihara kehidupan di bumi dengan diberikannnya potensi untuk hal itu, yang tidak diberikan kepada makhluk lain selain manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Terpilihnya manusia sebagai khalifah&lt;br /&gt;Ada beberapa potensi yang menyebabkan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang ditunjuk sebagai khalifah. diantaranya adalah:&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;a) Tujuan penciptaannya. Turunnya manusia ke bumi bukan karena kesalahan Adam makan buah khuldi tetapi karena memang sekenario dari Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai penghuni di bumi “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S Adz Dzariyaat. 51:56). Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah (2): 30). Bumi adalah tempat manusia dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya selanjutnya lebih khusus lagi tugas manusialah yang akan mengisi bumi dengan segala kreatifitasnya.&lt;br /&gt;b) Amanah yang diberikan. Manusia dengan dijadikannya khalifah mempunyai konsekuensi yang besar, yaitu beribadah kepada Allah, dengan pola hubungan khablum mina Allah dan Khablum minan nas, manusia dengan Tuhan, Manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Dalam kehidupannnya di dunia, manusia punyai kewajiban mengelola dan memelihara alam ini dan segala isinya dengan potensi yang dimiliki manusia. Hanya manusialah yang sanggung mengemban tugas itu, karena perangkat yang telah diberikan kepada manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. “Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q. S. al-Ahzab (33):72). Apa yang diperbuat manusia akan dimintai pertanggung jawaban. (Qs. Al-Mu’minun:62)&lt;br /&gt;c) Kesempurnaan bentuk (Raga/jasmani). Manusia telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibanding dari makhluk-makhluk lain (Qs. At Tiin : 4-5)&lt;br /&gt;d) Potensi ilmu. Ilmu yang menjadikan manusia lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk lainnya. Akal ini memungkinkan manusia untuk belajar atau berilmu. Ilmu inilah sebagai syarat utama menjadi khalifah. “Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar (QS. Al-Baqarah :31). Potensi ilmu inilah yang menjadikan manusia istimewa dan pantas menyandang jabatan khalifah. &lt;br /&gt;e) Hati/al- qalbu. Manusia mempunyai hati, sifat hati pada manusia tidaklah tetap, tetapi cenderung labil. Potensi hati inilah potensi keimanan manusia, adanya potensi untuk mensucikan dzat yang ‘maha’ daripada manusia. Hati inilah sebagai pusat sistem kontrol diemensi psiritual manusia. (Qs. Al-An’am:110). Potensi inilah yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia.  &lt;br /&gt;f) Nafsu. Potensi inilah yang terkadang menjebak manusia kepada kejahatan, tetapi jika manusia mampu mengendalikannya maka kehidupan manusia menjadi lebih bermakna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Keberadaan potensi nafsu inilah para malaikat bertanya” mangapa kau (Tuhanku) ingin menjadikan manusia yang akan membuat kerusakan di Bumi?, mailakat mempunyai referensi dari sini. Diantara nafsu-nafsu itu adalah; Nafsu Ammaarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, dan Nafsu Muthmainnah.“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmad oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, maha penyayang. (Qs.Yusuf:53)&lt;br /&gt;g) Jiwa/ruh. Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya kepada tubuh manusia ketika masih dalam kandungan. Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa tersebut, tentang keesaan Allah, pertanggung jawaban atas perbuatannya. Allah mengujinya dengan kebaikan dan keburukan. Manusia mempunyai jiwa, dan tiap-tiap yang berjiwa akan mati. (Qs. Ali-Imron:185-186)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Manusa adalah khalifah, dimuka bumi, penciptaan telah direncanaan oleh Allah, keberadaannya di bumi adalah karena sekenario Allah, tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan yang dilakukan manusia (Adam). Manusia adalah makhluk  yang  sempurna secara bentuknya dibanding dengan makhluk lain, manusia juga adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dari segi potensi yang diberikan Allah padanya, tetapi potensi itu juga ayang akanmenjadiakan manusia derajatnya lebih tenndah dibanding binatang sekalipun. Segala keistimewaan dan kekurangan itu telah melekat pada manusia dan karena itulah manusia menjadi khalifah. Khalifah di muka bumi dengan segala potensi yang telah diberikan, dengan segala amanah yang akan dijalankan dan dengan segala cobaan yang akan ditemui. Semoga kita bisa menjadi khalifah yang sesungguhnya. Amin. waallu a’lam bisshowab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adib al Arief. Manusia, Sensitifitas Hermeneutik al-Qur'an. (Yogyakarta, LKPSM, 1997)&lt;br /&gt;Mahmud Abbas al-Aqqad. Manusia di Ungkap al-Qur'an. (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1993). Cet. II&lt;br /&gt;Naim, Mochtar. Kompendium himpunan ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan biologi dan Kedokteran (Jakarta, Gema Insani Pres, 1996)&lt;br /&gt;Pulungan, Muammar Syahid. Manusia dalam al-Qur'an. (Surabaya, Bina Ilmu, 1984)&lt;br /&gt;Suyuti, M. Pendidikan dalam Perspektif al-Qur'an; integrasi Epistemologi bayani, Burhani, dan Irfani.(Yogyakarta, Mikraj, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah alumni S1 tarbiyah uin malang dan sekarang sedang melanjutkan S2 di UIN sunan kali jaga Joqja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-4049706129486237076?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/4049706129486237076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=4049706129486237076' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/4049706129486237076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/4049706129486237076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2008/01/makna-turunnya-manusia-ke-bumi.html' title='Makna Turunnya Manusia ke Bumi'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-725312667831950020</id><published>2008-01-06T06:44:00.000-08:00</published><updated>2008-02-02T07:10:11.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Saat menemukan Tuhan dalam Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A. Rohman (Sebuah catatan pribadi)*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak pemikiran berkembang yang mengkaji tentang agama. Kiranya meliputi segala aspek yang dimiliki oleh agama baik segi teologis, politik, hukum, pendidikan dan lain sebagainya. Salah satu yang menarik bagi saya adalah tulisan Asghar Ali E. tentang agama pembebasan. Satu pertanyaan besar bagiku (dulu) apakah benar agama dapat membebaskan kehidupan manusia?. Sedang asumsi selalu mengatakan, agama tetap tidak akan pernah dapat memberi kebebasan dengan segala perintah-perintah yang datang dengan seenaknya tanpa mermperdulikan latar belakang manusia yang mengikutinya. Munculnya ide agama sebagai pembebasan hanya berlaku bagi orang-orang yang takut mengkritisi Tuhan dengan perintah-perintahnya, takut masuk neraka, takut tidak kebagian jatah kavlingan tempat di surga, takut dikucilkan tetangga atau bahkan takut tidak diakui sebagai warga negara Indonesia sebagaimana telah tertuang pada pasal pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan-ketakutan seperti itu ada, sebagai sebuah konsekuensi yang wajar atas model keberagamaan yang lahir bukan karena benar-benar sadar akan kebutuhan beragama. Agama dianggap sebagai suatu yang sempurna (absolute), tanpa melihat fungsi agama untuk siapa. Sehingga garapan Agama menjadi menyempit, dibatasi pada wilayah-wilayah mistis dan benar menjadikan agama sangat membelenggu kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beragama sebagai kebutuhan, tidak akan pernah dirasakan kecuali dalam areal kampanye keagamaan seperti khutbah, ceramah atau orasi dunia ideology mistis di masjid-masjid, undangan pernikahan, peringatan hari-hari agama yang tidak lain hanya menjadi ladang mendapatkan keuntungan material penceramah, bukan berlandaskan atas memasyarakatkan kebenaran beragama.&lt;br /&gt;Itulah sekilas lalu tentang pemahaman agama yang parsial, namun kini (meskipun mending) telah menganggap agama sebagai kebutuhan dalam menjalani kehidupan dunia untuk tunduk dalam system pemerintahan Tuhan. Ketundukan ini tidak hanya didapat dari semata-mata melakukan karena kewajiban, namun harus dimu&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;lai dari jiwa kritis dalam merasakan maksud dari segala macam perintah-perintah agama. Kesadaran ini sebenarnnya sudah ada dalam diri kita. Kesadaran ini didapat jika kita benar-benar memahami konsep kemanusiaan yang menjadikan manusia hidup di dunia ini. Utuk itulah, kesadaran harus dibangun melalui berfikir benar tentang problem kemanusiaan atau apa kebutuhan dasar manusia?. Tetapi lebih awal lagi siapakah manusia? Anehnya, Islam telah menyelaraskan apa yang manusia pikirkan tentang kehidupan ini. Untuk itu, pengalaman ini aku bagi pada siapapun yang ingin menikmati petualangannya dalam kebingungan mencari Tuhan untuk mempertimbangkan apa yang aku dapatkan dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Apa itu manusia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ego, arogansi dan parameter obyektifitas manusia, semua manusia sepakat bahwa manusia adalah makhluq terbaik yang ada di alam &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ini. Ternyata, Al-Qur’an juga menegaskan hal ini:&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.(17:70).&lt;br /&gt;Kalangan filosof mendefinikan manusia sebagai hewan yang berakal. Dalam arti, manusia dan binatang secara kualitas adalah sama, tapi hanya dibedakan oleh akalnya. Akal bukan secara keberadaan, tapi kualitas atau fungsi akal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;endahnya(At-tin, 95:4-5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang punya potensi, tapi tidak diberdayakan dan memilih jalan sebagaimana mahkluq lain menjalani kehidupannya, maka manusia seperti ini tidak mempunyai keistimewaan bahkan lebih rendah dari binatang. Ternyata Al-qur’an juga menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Al ‘araf, 7:79)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan sebaliknya, jika manusia yang memanfaatkan sega&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;la potensinya, secara naluri kemanusiaan siapapun akan kagum, menyanjung dan memujinya.&lt;br /&gt;Dengan bahasa yang berbeda, di dalam Al-Qur’an orang yang mempunyai kesadaran akan potensinya digolongkan dalam kategori orang yang bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal), agar kamu bersyukur (An Nahl, 16:78)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akal adalah alat analisis kehidupan. Sedang ke mana arah kerja akal? dan untuk siapa akal bekerja ?, maka manusia disertai dengan potensi naluri/insting (fitrah). Manusia dapat membuat rasionalisasi segala yang tidak rasional atau malah sebaliknya, tapi manusia punya kata pilihan utama (kebenaran) mana yang akan diambil dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ag&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (30:30).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja manusia menipu jutaan manusia lainnya, tapi sebenarnya tidak ada kuasa untuk menipu dirinya sendiri. Itulah dimana keinginan manusia yang diakhiri oleh tindakannya membuat wajah kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;n, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus(Al hujurat, 49:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Harus ada Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan hidup di dunia, dapat dilakukan introspeksi, siapa, apa dan mana yang benar-benar mempunyai nilai kebenaran yang berkualitas tinggi/tidak sedikitpun salah. Manusia sendiri yang mengklaim sebagai mahkluq yang paling pintar dan mulya diantara makhluq-makluq yang lain, ternyata tidak dapat dakatakan sebagai cermin sumber kebenaran. Terbukti dengan banyaknya klaim-klaim kebenaran versi kelompok ataupun individu pada kehidupan manusia, meskipun mereka membahas&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dan mempunyai landasan yang sama tentang sebuah kebenaran. Dengan kata yang sama, manusia tidak mempercayai kebenarannya sendiri sebagai kebenaran yang perlu dijadikan pedoman dan anutan bagi kehidupan manusia. Untuk itulah, manusia tidak layak untuk dijadikan sandaran atau pedoman kebenaran. Maka harus ada kebenaran yang ideal yang bersifat universal, ideal dan absolut. Sandaran semacam ini merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi, karena kebenaran yang ideallah yang diinginkan manusia yang dapat memenuhi kebutuhan dan sebagai alat pemuas/untuk meraih kebahagiaan.&lt;br /&gt;Proses pencarian dan pengamatan terhadap kebenaran yang mana yang merupakan sebuah parameter idealisme kebenaran?. Di sanalah harus disimpulkan bahwa sumber kebenaran tersebut harus merupakan entitas di luar kemampuan manusia sebagai makhluq dengan kualitas tertinggi. Berarti juga telah mengharuskan adanya sesuatu di luar eksistensi alam ini, karena manusia sudah tidak dipercaya oleh manusia s&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;endiri untuk memegang peridikat pemilik kebenaran ideal.&lt;br /&gt;Pengamatan seperti ini tidak harus kita teruskan dengan upaya individual untuk menangkap eksistensi dari idealisme kebenaran. Bisa kita amati dengan apa yang terjadi di alam ini, dengan melihat fenomena manusia dalam aktualisasinya mendapatkan kebenaran yang menurut kebanyakan manusia yang itu adalah kebenaran ideal. Fenomena manusia telah mengatakan bahwa kebenaran tersebut digambarkan dan disimbolkan dengan salah satu redaksi versi Indonesia adalah Tuhan. Yang kebetulah dalam redaksi umat Islam disebut sebagai Allah. Jadi Tuhanlah/Allah-lah yang kita cari sebagai rujukan segala sumber kebenaran.&lt;br /&gt;Islam adalah agamaku sejak kecil, agama terbesar kedua di dunia. Ditinjau dari besar pengikurnya, maka tidak ada salahnya jika Islam yang aku anut sejak kecil menjadi awal pembuktian bahwa di dalamnya memang ada kebe&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;naran-kebenaran ideal yang dimaksud. Dengan demikian Islam akan memberikan jawaban problem dasar kehidupan yang beberapa tahun aku cari. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, Islam tidak sejalan dengan logika dan rasa dari kehidupan manusia, maka tidak ada salahnya untuk melanjutkan pencarian pada obyek-obyek selanjurnya yang telah diklaim manusia menjadi sumber segala kebenaran. Allah yang disebut-sebut sudah saatnya harus dbuktikan.&lt;br /&gt;C. Penjelasan wahyu tentang Allah&lt;br /&gt;Dalam keinginan dan kemampuan manusia untuk menginginkan kebenaran yang benar-benar benar adanya, maka perlu disadari juga kelemahan manusia dalam menjangkau sang/sesuatu kebenaran ideal mutlak tersebut. Karena keidealan sang kebenaran dan kerelatifan manusia, maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kebenaran mutlak (Allah). Dikarenakan manusia dengan keterbatasannya setelah mengak&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ui kelemahan, kekurangan, (al insanu mahalul khatha wa nisya), maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kekuatan yang serba Maha/Allah. Manusia adalah materi dan Allah (x) materi atau bukan sesuatu yang kita ketahui, ada dan kita miliki. Manusia adalah nisbi dan Allah adalah absolute. Kalau ada atau bahkan sama seperti apa yang ada dalam dunia ini tentunya kita yakin bahwa ia bukan Allah yang kita maksud.&lt;br /&gt;dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Al ikhlas, 112:4)&lt;br /&gt;Di dalam kesadaran akan keterbatasan manusia memperoleh atau mencapai kebenaran Allah, maka upaya manusia dalam memperolehnya, tidak dapat dilalui dengan hanya mengandalkan potensi pribadinya (sesuai yang dimiliki manusia). Ijtihad yang dilakukan oleh manusia dengan cara apapun, tidak mungkin (sia-sia) dapat menjangkau esensi kebenaran (Tuhan) bila metode yang dilakukan adalah dengan meneropong/meraih l&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ansung dimensi ketuhanan sebagai langkah pendekatan. Hal ini sama saja dengan tidak mengetahui atau menjadikan kebenaran tidak ideal sebagai landasan kehidupan.&lt;br /&gt;Ini telah memunculkan problem baru bagi fitrah keHanifan manusia, karena fitrahnya dia merindukan kebenaran tatapi manusia tidak dapat meraih dalam kehidupannya. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka dari itu manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Intervensi ini sekaligus membuktikan dia yang Maha, Maha Rohman dan Rohim. Intervensi kasih sayang dari T&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;uhan inilah yang kemudian kita sebut sebagai Wahyu .&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Asy syura, 42:51-52)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari wahyu inilah, yang berfungsi sebagai penuntun kehidupan manusia untuk menapaki kehidupan dalam memperoleh hakikat kehidupan sebagaimana fitrah mengatakan. Untuk merealisasikannya manusia harus bekerja keras, harus berani memperlajari “iqra’’ (Qs, 96:1) dan menginternalisasi dalam kehidupannya. Dikala manusia dengan potensi fitrah yang hanief menghendaki setiap tindak-tanduknya didasarkan atas kepercayaan yang benar-benar benar, maka (klaim pribadi saya), jika ada manusia yang mengatakan telah berbuat baik dengan kerangka keiklasan (tulus) dikerenakan hanya kepada Allah sedangkan ia tidak meyakini adanya wahyu, dapat dikatakan mereka mengingkari fitrah kemanusiaan yang hanief (mencintai kebenaran) atau dapat dikatakan dust&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Fungsi Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wahyu tidak datang/ turun dan menjelaskan dengan sendirinya (mak byuk) atau Tuhan datang sendiri kepada keseluruhan manusia dalam menjelaskan keinginan-Nya (bukan berarti menurunkan kualitas Tuhan). Karena ke-Maha-an Allah-lah, maka Dia tidak hadir dengan sendirinya. Sehingga dalam penurunan wahyu diperlukan manusia (Nabi/rosul), sebagai jembatan/komunitator tentang pesan-pesan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin. Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy syurra’, 26:192-195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wahyu yang dikirimkan untuk manusia, maka utusannya (perantaranya) harus juga manusia, dan jelas bukan dianggap sebagai Tuhan. Hal ini sesuai dengan klaim manusia yang menduduki peran utama dilihat dari kualitas dan kemampuannya. Mustahil wahyu akan berfungsi jika perantara adalah makhluq diluar mausia. Manusia tidak akan pernah mempercayai wahyu apapun jika diturunkan kepada binatang, tumbuhan atau yang lain. karena mereka tidak mempunyai otoritas menyampaikan wasiat apapun kepada makhluq yang mempuyai kualitas di atasnya. Dan target dari komunikasi penyampaian kebenaran tidak akan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan supaya aku membacakan Al Quraan. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak lain hanya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lah salah seorang pemberi peringatan" (An naml, 27:92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al Ahzab, 33:21).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (saba’ , 34:28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi (Al Fath, 48:28).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah di&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;utusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (An nisa’ , 4:165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka(2:119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Karena semua harus selaras dengan kepercayaan manusia, tentunya bukan sembarang manusia yang berhak mendapatkan wahyu. Sudah tentu siapa orangnya yang menjadi utusan (Nabi/rosul) adalah otoritas Tuhan untuk memilih. Bukan dari kehendak dari manusia, tapi kehendak Tuhan untuk menurunkan wahyuNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur'an diturunkan kepadamu (Muhammad), tetapi ia karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu ,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir (Al Qashash, 28:86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (As-Syura, 42:52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Maka bangunan kepercayaan yang benar untuk percaya kepada kebenaran yang mutlak (Allah), tidak hanya percaya kepada kebenaran wahyu, namun kita perlu percaya terhadap pembawanya (rasul/nabi). Mana mungkin manusia percaya Allah kalau tidak percaya wahyu. Mana mungkin percaya kepada wahyu kalau tidak pe&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;rcaya kepada Nabi.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Aku sempat bingung dan memunculkan pertanyaan kembali, wahyu yang mana yang mengandung kadar kebenaran universal dan mutlak. Untuk membuktikan bahwa wahyu itu memang benar-benar dari Tuhan, satu-satunya jalan adalah memeriksanya dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia dalam memutar otak dan menjalankan modal fitrah kemanusiaannya. Semua menjadi obyek kajian, meliputi kebenaran yang ada dalam wahyu, dan dari apa yang (Nabi/Rosul) perbuat sebagai percon&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;tohan (uswah) profile keidealan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Kembalinya kita pada kepercayaan pada kebenaran akan mampu menganalisis sebagai bentuk macam versi kebenaran yang lahir di dunia. Pembuktian ini dapat dilakukan dengan pembuktian secara histories, ilmu pengetahuan, pengalaman dan bahkan secara intuisi. Disinilah letak derajat kemulyaan manusia jika dapat menggunakan segala potensi yang dimiliki. Berarti kebenaran yang tertanamkan dalam wahyu juga harus mendukung, menghargai, membenarkan atau bahkan mewajibkan akan penggunaan potensi kehidupan manusia. Dengan kata lain, wahyu harus mendorong manusia untuk berilmu dan mencintai ilmu.&lt;br /&gt;Alquran dan sabda nabi juga tidak bertentangan d&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;engan kaidah berfikir seperti ini. Allah memberikan apresiasi yang besar terhadap keinginan manusia untuk mencari dan membuktikan kebenaran yang ia yakini, termasuk dalam memahami ayat-ayat Allah.&lt;br /&gt;(yarfaa’illahu ladzinaamanu minkum walladzinautul ‘ilman darajat(Qs,58:11),&lt;br /&gt;Nabi juga mengatakan bahwa&lt;br /&gt;Ilmu bukan menjadi komoditi yang haram, namun justru menjadi kewajiban bagi umat beragama (faridhah ‘ala kulli muslim). Sehingga kita tiada henti-hentinya sejak lahit sampai mati (minal mahdi ilal lahdi) untuk mencari pengetahuan (ilmu) walau sampai ke negeri cina (walau bissin). Untuk lebih jelasnya, bagaimana islam memandang Ilmu akan dibahasan dalam bab tersendiri di belakang. *********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Keberadaan malaikat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang kita lanjutkan dengan sedikit mengulang penjelasan di atas. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Karena ke-idealan&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Allah dan ke-nisbian manusia, maka pasti ada jarak anatara mansia dengan Tuhannya. Keidealan yang dibutuhkan manusia bukan keidealan itu sendiri. Artinya, proses pemberian ke-idealan kebenaran (wahyu) kepada manusia, bukan hadirnya ke-idealan sendiri kepada manusia, tapi ada sesuatu kehendakNya yang memisahkan definisi manusia dengan ke-Nisbiannya dan Allah dengan KemutlakkanNya. Sesuatu itu disebut dalam Al-qur’an dengan malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a. (Asy syura, 42:51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Proses turunnya risalah Allah ke dunia adalah dengan melibatkan malaikat, sebagai perantara hubungan manusia dengan Tuhan harus menjadi bagian dari kepercayaan. Karena yang mempunyai inisiatif penuh dalam penurunan wahyu kepada manusia juga menjadi otoritasNya. Malaikat diciptakan dengan spesifikasi wilayah kerja tersendiri. Rosul tidak mendapatkan wahyu dengan cara komunikasi lansung dengan Tuhan, melainkan melalui perantara yaitu malaikat. Sehingga bangunan kepercayaan terhadap kebenaran adalah perlunya kepercayaan yang saling bersinergi yaitu percaya kepada Allah, Wahyu, malaikat (perantara kepada manusia) dan percaya kepada Nabi/Rosul (manusia utusannya) sebagai ujung tombak penyampai atau komunikator pada umat manusia&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;F. Mempertahankan dan memupuk kepercayaan&lt;br /&gt;Sesuatu yang dicari, dibutuhkan dan telah didapatkan oleh seseorang apalagi kebutuhan itu adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan setiap orang, maka tidak ada jalan lain kecuali upaya untuk mempertahankan dan memeliharanya yang semata-mata digunakan untuk mendapatkan semua makna kehidupan.&lt;br /&gt;Kepercayaan yang telah ada dalam kehidupan manusia harus dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Pemeliharaan ini untuk menjaga kualitas kemanusian, demi kebutuhan manusia yang paling mendasar dengan tujuan bahwa kegiatan kehidupan manusia selalu membawa keinginan untuk cenderung kepada yang hanief. Hal ini disesuaikan dengan kerangka menuju kebenaran mutlak (Allah) lewat penerjemahan da&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;n Interpretasi terhadap wahyu (qouniyah dan qouliyah).&lt;br /&gt;Pemeliharaan keimanan ada dua sisi, terkait dengan dua jenis keberadan wahyu Allah yaitu qouliyah dan qouniyah yang masing-masing mempuyai spesifikasi yakni qouliyah lebih pada kerangka etis spiritual dan qouniyah pada wilayah praksis matrealis. Disamping itu landasan utamanya adalah adanya dua dimensi manusia yaitu jasmani dan rohani, yang keduanya merasakan kehausan untuk selalu dipenuhi dengan kebutuhannya masing-masing.&lt;br /&gt;Pemenuhan setiap sisi adalah keharusan dalam menjaga keseimbangan. Dua sisi tersebut adalah: pertama, untuk jasmani yang terkait dengan materi adalah prilaku yang mengatur interaksi dengan alam apakah mendapatkan, mengolah, memilihara baik cara atau tingkah laku, semua bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dala&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;m sisi jasmani. Seorang bisa mendapatkan, mengolah, menikmati segala fasilitas alam, maka diperlukan bagaimana cara mendapatkan, memilih, menganalisa, mengolah dan memanfaatkan dari apa yang telah menjadi tujuannya. Kemampuan seseorang untuk memilih kualitas tertinggi dalam kehidupan hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu/pengetahuan. Semakin tinggi ilmu/pengetahuan seseorang akan semakin bagus kehidupan orang tersebut, karena dia secara selektif tahu cara memilih, memanfaatkan, mengolah dan menikmati. Jadi untuk memelihara dan melestarikan keimanan adalah dengan tidak henti-hentinnya menambah ilmu/pengetahuan.&lt;br /&gt;Kedua, untuk aspek rohani perlu adanya terapi untuk menenangkan jiwa. Hal ini dilakukan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan (ritual)khusus. Lagi-lagi kebutuhan kepercayaan yang kita inginkan adalah benar-benar benar yang tidak&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; lain hanya bersumber dari Tuhan. Sehingga menjadi otoritas penuh Tuhan yang tertuang di dalam wahyu untuk mengaturnya. Kita tidak dapat merubah bentuk ritual seenaknya. Tidak dapat tercapai dengan metodologi yang dirangkai sendiri, kalau tidak dituntun dengan informasi atau mekanisme dari Tuhan sendiri. Tidak salah jika kaidah fiqiyah mengatakan bahwa “asal dari ibadah adalah haram kecuali jika ada ketentuan yang mengaturnya”, sehingga ibadah yang kita lakukan benar-benar bersumber dariNya, kar&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ena Dia yang lebih tahu bagaimana metode untuk mendekatiNya. Wahyu mengatur bentuk ritual tersebut yang telah disesuaikan dengan kemampuan manusia (laayukallifullahu nafsan illa wus’aha) sehingga benar-benar akan menuju kepada kebenaran-Nya.&lt;br /&gt;Di dalam Wahyu yang dimiliki Islam ada bermacam-macam, bentuk ritual tersebut dinamakan dengan Sholat, haji, puasa, ataupun zakat. Untuk itu semua adalah wajib dilakukan manusia untuk menghubungkan keinginan manusia yang tulus kepada pemilik kebenaran.&lt;br /&gt;G. Arah keteguhan kepecayaan&lt;br /&gt;Seoarang yang telah konsisten dengan kepercayaannya yaitu memegang teguh kebenaran sejati, maka dia akan dengan mudah mendapatkan kebah&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;agiaan kehidupan yang didambakan. Cerminan dari orang yang telah melaksanakan kehidupan hanya dengan standart kebenaran, bukan fanatisme, kebiasaan, pengalaman, keinginan, kemauan, perintah, anjuran dsb, maka orang tersebut menjadi santun prilakunya baik berinteraksi dengan sesama atau dengan keseluruhan alam. Dia telah melibat suatu dari parameter subtansi makna kehidupan.&lt;br /&gt;Dia tidak punya musuh selain kesalahan, kedholiman atau kemungkaran. Dia tidak punya musuh sejati dan kawan sejati terhadap siapapun dan apapun, karena yang ia lihat adalah siapa yang berbuat salah dan siapa yang berbuat benar. Siapa yang benar, maka bagi dia itulah yang perlu untuk diikuti dan didakwakan kepada orang lain. Dia tidak akan kaku dengan kebenaran yang ia miliki, karena dengan standart kebenaranya, dia mampu untuk meninggalkan kebenaran yang lama dengan mengambil kebenaran yang baru. Dia tidak akan lepas dengan kegiatan belajar, karena kesadaran dengan menya&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dari kebenaran yang dimiliki tidaklah bersifat mutlak dan masih banyak kebenaran-kebenaran yang baru yang lebih baik yang perlu dicari untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Pecinta kebenaran tidak akan pernah menyalahkan sebelum dia tau lebih dalam tentang kesalahan, yang tentunya dengan mengecek lansung kebenaran/kesalahan yang dimiliki orang lain tersebut. Dia menjadi seorang pemberani untuk merubah setiap kesalahan, karena kegiatannya hanyalah menegakkan kebenaran. Tentunya dia telah mengetahui dan menggunakan cara yang paling benar (karena landasan hidupnya hanya pada kebenaran), apakah dengan tangan, lisan atau hati/kebencian (dzikir/berdo’a) atau mempersiapkan strategi untuk memusnahkan setiap kejahatan. Dia tidak akan membuat kerusakan (fasik), karena yang dipilih adalah selalu yang paling benar. Dia selalu t&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;erbuka akan kritik dan saran, karena dia menyadari bahwa kebenaran yang ia miliki bukanlah kebenaran mutlak.&lt;br /&gt;Pecinta kebenaran akan menjadi orang yang selalu optimis, karena dia selalu melihat didepannya ada kebaikan dan kebenaran yang tak ada putusnya. Dia tidak takut mati, karena kehidupan bukan untuk mempertahankan kehidupan atau untuk kematian, melainkan hanya untuk tegaknya kebenaran.&lt;br /&gt;Dia terbuka dengan hadirnya ilmu-ilmu baru dan tidak meninggalkan yang lama, karena baginya semua dapat menjadi sumber kebenaran. Dia tidak menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, atau justru fundamentalisme liberal, yang semua fanatic dengan golongan atau alur pemikiran bukan pada k&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;elapangan diri dan hati untuk menerima setiap kebenaran. Tapi dia suatu saat bisa menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, dll, karena melihat kebenaran padanya. Dia juga tidak selalu ilmiah atau mistis (ghoib), karena baginya keduanya ada dalam realitas kehidupan dan dapat dijadikan sumber kebenaran.Dia hanya fanatic dengan etnis kebenaran, bukan suku, bangsa, bahasa budaya dll.&lt;br /&gt;Sebuah bayangan yang ideal memang gambaran di atas. Dari kumpulan-kumpulan individu-individu yang mempunyai kualitas seperti ini, maka akan dapat membentuk masyarakat yang madani dan Islami.&lt;br /&gt;Untuk memberikan sedikit gambaran, diagram dibawah ini mungkin dapat membantu proses berfikir kita&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_T9sGsErIIPQ/R4Dp60T7rSI/AAAAAAAAAA8/_qAaXMaewoc/s1600-h/Tauhid-bagan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_T9sGsErIIPQ/R4Dp60T7rSI/AAAAAAAAAA8/_qAaXMaewoc/s320/Tauhid-bagan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152375170395778338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dengan modal fitrahnya yang hanief dan didukung dengan keberadaan wahyu/ayat-ayat Allah, maka akan menjadi kualitas manusia yang unggul, bahkan dapat melebihi malaikat. Inilah kehidupan manusia ber-Tuhan. Hanya bersama Tuhan kehidupan akan jauh lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah kontributor tetap Fortega &lt;a href="http://4rohman.tk/"&gt;http://4rohman.tk&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-725312667831950020?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/725312667831950020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=725312667831950020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/725312667831950020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/725312667831950020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2008/01/saat-menemukan-tuhan-dalam-islam.html' title='Saat menemukan Tuhan dalam Islam'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_T9sGsErIIPQ/R4Dp60T7rSI/AAAAAAAAAA8/_qAaXMaewoc/s72-c/Tauhid-bagan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-2530597633434711241</id><published>2008-01-06T06:19:00.000-08:00</published><updated>2008-01-06T06:23:13.795-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Memaknai Sekularisasi yang Berjiwa Tauhid</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh : Eri Zubaeri AB.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antaran Wacana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Merupakan suatu keniscayaan, bahwa pro dan kontra akan selalu hadir menyertai setiap perubahan dimana pun kita berada, apalagi sesuatu yang baru yang bertentangan dengan mainstream pemikiran masyarakat, sudah pasti akan mendatangkan protes dari sebagian pihak. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana reaksi umat (para tokoh) Islam terhadap munculnya ide-ide pemabaharuan Islam di Indonesia yang diusung para mahasiswa era akhir 60-an yang dimotori Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid dan kawan-kawanya, adalah bukti nyata bahwa setiap ide-ide baru pasti mendapat tantangan. Kemunculan kaum pembaharuan tidak secara serta merta, tapi ada sebab yang melatarinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak lepas dari adanya sebuah asumsi bahwa bentuk keberagamaan (baca: keberislaman) umat Islam Indonesia mengalami satagnan, kejumudan, jalan ditempat, bahkan mengarah terhadap kemunduran, baik aspek pemikiran apalagi aktivitasnya yang cenderung taken for granted pemahaman Islam yang datang dan lahir dari rahim arabic culture.&lt;br /&gt;Sebuah dilema segera dihadapkan kepada umat Islam: apakah akan memilih menempuh jalan pembaharuan dalam dirinya, dengan merugikan integrasi yang selama ini didambakan, ataukah akan mempertahankan dilakukannya usaha-usaha ke arah integrasi itu, sekalipun dengan akibat keharusan ditolerirnya kebekuan pemikiran dan hilangnya kekuatan-kekuatan moral yang ampuh? Tidak bisa dipersatukannya (inkompabilitas) antara keharusan pembaharuan dan integrasi ialah kenyataan bahwa bila suatu inisiatif pembaharuan telah diambil oleh sebagian umat, maka sebagian yang akan mengadakan reaksi kepadanya.&lt;br /&gt;Sekularisasi dalam Islam, salah satu istilah yang mendapat reaksi keras kalangan umat Islam, yang diproklamirkan oleh Nurcholish Madjid dalam pidatonya yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” pada 3 Januari 1970 di Gedung Pertemuan Islamic Research Centre, Menteng Raya, Jakarta. Dalam pidatonya Cak Nur (panggilan akrabnya) menganjurkan “sekularisasi” sebagai salah satu bentuk “liberalisasi” atau pembebasan terhadap pandangan-pandangan keliru yang telah mapan, walau secara tegas dia menolak paham sekularisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan fundamental yang masih menggelitik dan patut untuk diungkapkan bahwa, apakah dua kutub biner antara Islam dan sekularisasi sudah benar-benar menjadi harga mutlak? Artinya, apakah antara Islam dan sekularisasi tidak bisa dirajut hingga menjadi bentuk unifikasi yang “saling berbagi”? Sebab, sekularisasi sendiri yang semula terjadi dari produk budaya barat, tidak selamanya buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengenal Akar Istilah Sekularisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas lebih lanjut tentang sekularisasi, tidak lengkap rasanya kalau kita tidak tahu definisi istilah tersebut. Kata ‘sekular’ dan ‘sekularisasi’ berasal dari bahasa Barat (Inggris). Sedangkan asal kata tersebut sebenarnya dari bahasa latin, yaitu ‘saecundum’,  yang artinya ‘zaman sekarang ini’. Dan kata-kata ‘saeculum’ itu sebenarnya adalah salah satu dari dua kata latin yang berarti ‘dunia’. Kata lainnya ialah ‘mundus’. Tetapi, jika saeculum adalah kata waktu, maka mundus adalah kata ruang. Sedangkan saeculum sendiri lawan dari eternum yang artinya ‘abadi’, yang digunakan untuk menunjukkan alam yang kekal abadi, yaitu alam sesudah dunia ini.&lt;br /&gt;Tidak jauh beda seperti yang sering disebutkan dalam al Qur’an, ada paralelisme peristilahan, yaitu untuk menunjuk alam dunia ini, selain dipakai kata al dunya, sebenarnya juga sering dipakai kata al ula. Kata al dunya adalah bentuk mu’annats dari kata sifat al adna, yang berarti ‘yang terdekat’, jadi, merupakan kata ruang. Sedangkan kata al ula adalah bentuk mu’annats dari kata sifat al awwal yang berarti ‘yang pertama’, jadi menunjuk kata waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekularisasi dari Sudut Pandang Sosiologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan sekularisasi dalam konteks pengertian sosiologis, sebelum nantinya akan kita tarik suatu korelasi terhadap Islam. Talcoot Parsons dan Robert N. Bellah, menunjukkan bahwa sekularisasi sebagai suatu bentuk proses sosiologis, lebih banyak mengisyarakan kepada pengertian pembebasan masyarakat dari belenggu takhayul dalam beberapa aspek kehidupannya, dan ini tidak berarti penghapusan orientasi keagamaan dalam morma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan itu (Parsons, et. al.: 1961). Sekularisasi disini mengandung makna desakralisasi, yaitu pencopotan ketabuan dan kesakralan dari objek-ojbjek yang semestinya tidak tabu dan tidak sacral. Sekularisasi melihat dari segi proses, yakni proses penduniawian.&lt;br /&gt;Perbedaan pemahaman disebabkan adanya sudut pandang dan pendekatan yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan. Secara sosiologis, istilah sekularisasi sangat sering digunakan oleh para ahli ilmu-ilmu social, walau begitu harus kita sadari bahwa masih banyak yang mempermasalahkannya. Masalah ini ditimbulkan oleh adanya perdebatan dan polemic disekitar buku Harvey Cox, The Secular City. Dalam buku tersebut, Cox memaami sekularisasi dengan menggunakan paradigma filosofis. Pemikiran Cox tersebut, sangat dipengaruhi dari masa enlightenment Eropa, yang telah menjadi akar tumbuhnya filsafat sekularisme sebagai suatu ideology yang secara khusus bersemangat anti agama.&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga hal, mengapa sekularisasi dalam bangunan tradisi intelektual di dunia Islam dianggap akan menodai ajaran agama. Pertama, sekularisasi mengandung dimensi disenchantment of nature atau pembebasan alam semesta dari pengaruh ilusi, bahkan Allah pun termasuk didalamnya. Kedua, sekularisasi mengandung desacralization of power yakni membongkar mitos-mitos kekuasaan Allah. Ketiga, sekularisasi mengandung deconsecreation of values atau pembangkangan terhadap nilai-nilai ajaran agama.&lt;br /&gt;Dengan ketiga hal itu, ajaran Islam yang selama ini telah terkonstruksi secara dogmatis dan untouchable, maka dapat dipastikan kemudian menjadi touchable. Dengan disenchantment of nature misalnya, pemahaman seorang muslim akan bisa memisahkan diri dari “kekuasaan Allah”. Begitu juga dengan desacralization of power dan deconsecreation of values, pemahaman seorang muslim akan dapat membongkar nilai-nilai ajaran agama sehingga agama menjadi inklusif dan seorang muslim bebas menciptakan perubahan serta membenamkan dirinya kedalam proses evolusi sejarah umat manusia sepanjang jaman (consecreation of values). Memang terdapat kesulitan pemetaan terhadap penggunaan istilah sekularisasi yang sosilogis dan sekularisasi yang filosofis.&lt;br /&gt;Namun, sekularisasi perspektif sosiologis merupakan suatu keniscayaan, karena disana terkandung semangat liberating development (Madjid: 1997), sebagai sebuah proses pembebasan yang memang dibutuhkan oleh umat Islam dan era sekarang. Menurutnya, sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerangan sekularisme, sebab “sekularisme adalah nama sebuah ideology, sebuah pandangan dunia tertutup yang baru yang berfungsi sangat mirip dengan agama”. Dalam hal ini, yang dimaksudkan ialah setiap bentuk “perkembangan yang membebaskan”. Proses pembebasan ini diperlukan, karena akibat perjalanan sejarahnya sendiri, umat Islam tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya islamis itu, mana yang transcendental dan mana yang temporal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tauhid sebagai Embrio Sekularisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sakralisasi terhadap benda-benda seakan mengiringi kehadiran manusia dalam menempuh kehidupan spiritualnya. Karena manusia sebagai makhluk yang beragama (homo religious) tidak bisa lepas begitu saja dari bentuk penyembahan terhadap sesuatu yang diyakini dan dipercayai dapat mendatangkan manfaat atas dirinya. Kepercayaan yang demikian dapat kita lacak dalam sejarah keberagamaan manusia primitive yang terbagi dua kepercayaan, yaitu Dinamisme dan Animisme. Dinamisme dalam pemahaman yang berkembang dalam masyarakat berarti paham atau aliran keagamaan yang mempercayai adanya daya-daya (kekuatan) sacral/sakti yang ada pada suatu benda yang dapat membawa kebahagiaan manusia atau mendatangkan mara bahaya terhadap manusia dan lingkungannya, baik secara individu maupun masyarakat. Jika wujud dinamisme hanyalah merupakan daya-daya atau kekuatan gaib yang mampu mempengaruhi masyarakat tanpa dipribadikan atau dipersonifikasikannya kekuatan tersebut menjadi sesembahan. Animisme cenderung berbentuk personifikasi yang menguasai wilayah yang ditempati. Bagi animis, materi dan spirit, atau benda dan jiwa (jism dan ruh), menjadi satu, tidak dapat dibedakan. Hal ini dikrenakan mereka memandang benda-benda secara berlebihan, sehingga mereka beranggapan bahwa sikapnya terhadap benda-benda apapun merupakan kegiatan keruhanian atau keagamaan. Bagi animis tidak ada benda sebagai benda murni, mereka selalu mencari nilai spiritual dibalik benda tersebut, hingga muncul suatu kepercayaan dan keyakinan adanya kutukan atau membawa keberuntungan.&lt;br /&gt;Sekularisasi dengan makna desakralisasi, dapat dilacak dalam ajaran Islam dengan konsep tauhidnya, yang terangkum dalam kalimat laila illallah. Dalam kalimat tersebut terkandung dua pengertian: peniadaan (al nafy, negation) dan pengukuhan (al istbat, affirmation). “Tidak ada tuhan” merupakan konsep peniadaan terhadap segala bentuk kekuatan apapun yang diyakini mampu mendatangkan kemanfaatan dan dapat menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi manusia, “kecuali Allah” (Cak Nur: Tuhan) adalah bentuk pengakuan dan pengukuhan sebagai satu-satunya dzat yang paling berhak kepada-Nya kita tunduk (al din) dan pasrah secara totalitas (al islam). Dengan demikian, konsep tauhid dalam Islam memulai ajarannya dengan meniadakan sama sekali (al nafy lil jinsi) suatu bentuk sesembahan atau tuhan (ilah) yang lain.&lt;br /&gt;Islam dengan konsep tauhidnya datang tidak kenal kompromi. Sebagaimana yang telah dijelaskan seorang muslim harus mampu menghilangkan (negasi) segala bentuk dependensi terhadap benda-benda dan memandangnya sebagai benda apa adanya, benda-benda yang seharusnya ditundukkan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Semua benda yang semula dipuja-puja, dan karenanya diyakoni  mengandung nilai akhirat, spiritual atau agama, harus dicampakkan kembali ke bumi, dan dipandang sebagai tidak lebih daripada benda duniawi belaka. Manusi dengan potensi indera dan akalnya diperintah untuk memikirkan alam ini, dari proses  awal terciptanya, hukum-hukum yang mengitarinya, dan cara menguasai dan menggunakannya (lihat QS.  Ali Imron: 190, al Nahl: 11, Yunus: 101, dan al Ankabut: 20), terdapat sekitar 750 ayat yang menunjuk kepada fenomena alam, dan hampir seluruh ayat tersebut memerintahkan untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penciptaan alam dan perintah merenungkannya (Ghulsyani, 1991), bukan untuk disembah.&lt;br /&gt;Itulah pembebasan pertama dari tauhid, yakni membebaskan manusia dari belenggu kepercayaan palsu, dan dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang ‘Mahabenar’. Dua hal ini terangkum dalam dua surat pendek dalam al Qur’an yang termaktub pada QS. al Kafirun dan al Ikhlas. Yang pertama oleh Ibnu Taimiyah mengandung tauhid uluhiyyah; penegasan bahwa yang boleh disembah hanyalah Tuhan (Allah) satu-satunya. Kedua tauhid rububiyyah; penegasan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahaesa, yang satu secara mutlak dan transenden&lt;br /&gt;Bentuk sakaralisasi harus dilawan. Perlawanan melalui proses self liberation _istilah Cak Nur_ akan mengantarkan manusia mampu menangkap kebenaran yang sebenarnya. Implikasi dari pembebasan ini adalah seseorang akan menjadi “manusia yang terbuka, yang secara kritis selalu tanggap kepada masalah-masalah kebenaran dan kepalsuan yang ada di tengah masyarakat. Dan sikap tanggap itu, ia lakukan dengan keinsyafan sepenuhnya akan tanggung jawabnya atas segala pandangan dan tingkah laku serta kegiatan dalam hidup ini”. Yang semuanya muncul dari rasa keadilan (al ‘adl) dan perbuatan positif kepada sesame manusia (al ihsan) (QS. Maryam: 90).&lt;br /&gt;Efek pembebasan tauhid di atas, akan mengalir dari yang sifatnya individual kepada yang lebih social. Menurut Cak Nur, dalam al Qur’an prinsip tauhid berkaitan dengan sikap menolak thaghut (apa-apa yang melampaui batas _termasuk terhadap dunia; penulis), sehingga konsekuensi logis tauhid adala pembebasan social yang bersifat egalitarianisme dan demokratis. Maka, sekularisasi sekarang memperoleh maknanya yang konkrit, yaitu desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal-hal yang benar-benar bersifat ilahiyyah (transendental), yaitu dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Muslim Sekuler&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pandangan generik dan memukul sama rata mengenai sekularisasi harus dikembalikan pada substansinya, yaitu sekularisasi seperti yang didefinisikan Robert Bellah (1999) di atas, yang merupakan “ajaran” rasionalisasi agama dan mengaktualisasikan pemahaman keagamaan pada perkara-perkara realitas.&lt;br /&gt;Sehingga tugas seorang muslim adalah juga menjadikan dirinya sekuler, atau muslim-sekuler yang meredefinisi ajaran dan dogma agama bagi kehidupan dunianya. Dengan demikian, sekularisasi bagi seorang muslim merupakan perangkat yang dapat menyelamatkan ajaran Islam yang turun ke bumi untuk kesejahteraan umat manusia sendiri. Karena ajarannnya akan menjadi lebih tangguh saat seorang muslim mengetahui kelemahan-kelemahan sekularisasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Purna Wacana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari bentuk apa yang diambilnya di masa depan, pembaharuan merupakan keniscayaan yang sangat diperlukan agar Islam dengan semangat shalih likulli al azminat wa al amkinat tidak hanya sekedar menjadi jargon tanpa makna. Tajdid-islah akan tetap merupakan komponen penting dari kehidupan Islam. Berjuang dengan kesempatan-kesempatan yang disediakan oleh tantangan dari masayarakat pasca-modern. Tradisi tajdid-islah telah membuktikan vitalitasnya yang berkesinambungan didalam mengimbangi perubahan dan perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat. Ia terus-menerus akan melukiskan salah satu dimensi yang dinamis dari pengalaman Islam. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wa Allâh-u ‘alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah direktur Fortega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-2530597633434711241?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/2530597633434711241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=2530597633434711241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/2530597633434711241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/2530597633434711241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2008/01/memaknai-sekularisasi-yang-berjiwa.html' title='Memaknai Sekularisasi yang Berjiwa Tauhid'/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3646261619759877311.post-387572813352107150</id><published>2007-05-12T23:51:00.000-07:00</published><updated>2007-05-12T23:53:34.614-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>sudah lama gak tambah lagi artikelnya, maaf soalnya yang ngisi lagi sibuk. mungkin lain kali yang pasti ikuti aja perkembangannya, selalu tambah menarik. af1, thanks&lt;br /&gt;wassalam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3646261619759877311-387572813352107150?l=suarafortega.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suarafortega.blogspot.com/feeds/387572813352107150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3646261619759877311&amp;postID=387572813352107150' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/387572813352107150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3646261619759877311/posts/default/387572813352107150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suarafortega.blogspot.com/2007/05/sudah-lama-gak-tambah-lagi-artikelnya.html' title=''/><author><name>Pilkada Malang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09887009021492345989</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
